Nafkah
Untuk yang Ku Sayangi
Hujan yang turun
sepanjang hari, hawa dingin yang selalu menempel pada kulit tipisku ini. Aku
berteduh di pinggir jalan, di sebuah pondok kecil. Dia berdiri di depan ku
terterpa hujan dan angin dengan sepotong baju yang sedikit2 sudah rombeng,
sepotong celana yang sudah tak pasti lagi dengan warna asalnya, dengan membawa
sebuah ukulele di tangannya. Dia adalah seorang bapak tua yang ku fikir sedang
mencari nafkah untuk keluarganya.kulihat kulitnya yang sudah keriput, ku lihat
matanya yang memancarkan kelelahana, namun kulihat juga pancaran semangat dan
tekadnya untuk mencari sesuap nasi. Tak peduli hujan, tak pedulikan panas, iya
tetap berjalan mengarungi satu demi satu kios dan memetikan ukulele yang di
tangannya. Hatiku meringis, batinku teriris melihat perjuangan seorang ayah
yang mencoba menghidupi keluarganya hanya dengan sebuah ukulele. Aku melihat
tubuhnya yang menggigil. Oh Tuhan pelupuk mataku mulai panas,aku coba menhana
agar air yang ada di dalamnya tidak terjatuh. Aku lihat beliau hendak menyebrang
, lalu aku memanggilnya
“bapak, masih hujan gini kok udah jalan aja??”
“iya de, kalo nggak jalan nanti anak istri saya
mau makan apa?”
“tapi kan hujannya masih deres pak, bapak juga
Cuma pake kaos tanpa paying atau jaket apapun?”
Bapak itu menyunggingkan senyum kecilnya kepada
ku,
“sudah biasa sepert ini de, kasian anak istri
saya pasti mengharapkan saya”
Aku terdiam, aku membisu aku tak tahu hars berkata apa lagi, namun yang ku tahu pasti anak dan istri beliau sedang mengharapkannya membawa uang banyak. Pelupuk mataku semakin panas kali ini air di dalamnya tak mampu lagi terhan. Mendengar bapak itu yang berbicara degan gemetar karena kedinginan, melihat bibirnya yang membiru karna kedinginan, aku semakin tidak tega untuk melihatnya. Ku keluarkan selembar uang seratus ribu rupiah untuk bapak itu, mungkin uang yang ku keluarkann tidak seberapa di bandingkan perjuangan bapak. Tapi aku berharap semoga uang itu bisa sedikit membantu bapak untuk membeli sedikit beras dan sedikit lauk-pauk untuk keluarganya.
“nah bapak, karena sekarang ujannya belum preda,
bapak nggak usah ngamen lagi ya, saya nggak bisa kasih banyak, tapi semoga uang
itu bisa ngebantu bapak sama anak istri bapak untuk makan hari ini”
Tangan bapak semakin bergetar, ia menggenggam
uang itu dan air matanya pun jatuh membasahi pipi keriputnya. Batinku masih
pedih melihat ketegaran seorang bapak tua yang terus berjuang untuk menghidupi
keluarganya, dengan sebuah ukulele ia terus berjalan mencari sumber reezeki
untuknya.