Thursday, 10 January 2013

Nafkah Untuk yang Ku Sayangi


Nafkah Untuk yang Ku Sayangi


Hujan yang turun sepanjang hari, hawa dingin yang selalu menempel pada kulit tipisku ini. Aku berteduh di pinggir jalan, di sebuah pondok kecil. Dia berdiri di depan ku terterpa hujan dan angin dengan sepotong baju yang sedikit2 sudah rombeng, sepotong celana yang sudah tak pasti lagi dengan warna asalnya, dengan membawa sebuah ukulele di tangannya. Dia adalah seorang bapak tua yang ku fikir sedang mencari nafkah untuk keluarganya.kulihat kulitnya yang sudah keriput, ku lihat matanya yang memancarkan kelelahana, namun kulihat juga pancaran semangat dan tekadnya untuk mencari sesuap nasi. Tak peduli hujan, tak pedulikan panas, iya tetap berjalan mengarungi satu demi satu kios dan memetikan ukulele yang di tangannya. Hatiku meringis, batinku teriris melihat perjuangan seorang ayah yang mencoba menghidupi keluarganya hanya dengan sebuah ukulele. Aku melihat tubuhnya yang menggigil. Oh Tuhan pelupuk mataku mulai panas,aku coba menhana agar air yang ada di dalamnya tidak terjatuh. Aku lihat beliau hendak menyebrang , lalu aku memanggilnya 
“bapak, masih hujan gini kok udah jalan aja??”
“iya de, kalo nggak jalan nanti anak istri saya mau makan apa?”
“tapi kan hujannya masih deres pak, bapak juga Cuma pake kaos tanpa paying atau jaket apapun?”
Bapak itu menyunggingkan senyum kecilnya kepada ku,
“sudah biasa sepert ini de, kasian anak istri saya pasti mengharapkan saya”

Aku terdiam, aku membisu aku tak tahu hars berkata apa lagi, namun yang ku tahu pasti anak dan istri beliau sedang mengharapkannya membawa uang banyak. Pelupuk mataku semakin panas kali ini air di dalamnya tak mampu lagi terhan. Mendengar bapak itu yang berbicara degan gemetar karena kedinginan, melihat bibirnya yang membiru karna kedinginan, aku semakin tidak tega untuk melihatnya. Ku keluarkan selembar uang seratus ribu rupiah untuk bapak itu, mungkin uang yang ku keluarkann tidak seberapa di bandingkan perjuangan bapak. Tapi aku berharap semoga uang itu bisa sedikit membantu bapak untuk membeli sedikit beras dan sedikit lauk-pauk untuk keluarganya. 
“nah bapak, karena sekarang ujannya belum preda, bapak nggak usah ngamen lagi ya, saya nggak bisa kasih banyak, tapi semoga uang itu bisa ngebantu bapak sama anak istri bapak untuk makan hari ini”
Tangan bapak semakin bergetar, ia menggenggam uang itu dan air matanya pun jatuh membasahi pipi keriputnya. Batinku masih pedih melihat ketegaran seorang bapak tua yang terus berjuang untuk menghidupi keluarganya, dengan sebuah ukulele ia terus berjalan mencari sumber reezeki untuknya.